Saturday, December 5, 2015

Metode Pembuatan Batik Lampung

Bahan pembuatan batik Lampung

1. Canting, adalah alat tulis lilin yang digunakan untuk menutupi pola dan motif batik. Jadi fungsinya seperti pensil untuk lilin
2. Pensil pola
3. Kain mori putih yang biasanya kain sutera atau kain katun
4. Lilin malam (wax)
5. Kompor atau alat pemanas lilin malam (wax)
6. Bahan pewarna kain


Proses Detail Pembuatan Batik Lampung

1. Siapkan kain mori/ sutra, kemudian dibuat motif diatas kain tersebut dengan menggunakan pensil.

2. Setelah motif selesai dibuat, sampirkan atau letakkan kain pada gawangan

3. Nyalakan kompor/ anglo, letakkan malam/ lilin ke dalam wajan/ nyamplung, dan panaskan wajan dengan api kecil sampai malam/ lilin mencair sempurna. Untuk menjaga agar suhu kompor/ anglo stabil biarkan api tetap menyala kecil.

4. Tahap selanjutnya, menutupi kain dengan malam/ lilin pada bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih (sama dengan warna dasar kain). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran besar. Proses ini bertujuan agar pada saat pencelupan bahan/ kain kedalam larutan pewarna bagian yang diberi lapisan malam/ lilin tidak terkena pewarna.

5. Pada proses membatik dimulai dengan mengambil sedikit malam cair dengan menggunakan canting, tiup-tiup sebentar biar tidak terlalu panas kemudian torehkan/ goreskan canting dengan mengikuti motif. Dalam proses ini harus dilakukan dengan hati-hati agar jangan sampai malam yang cair menetes diatas permukaan kain, karena akan mempengaruhi hasil motif batik.

6. Setelah semua motif yang tidak ingin diwarna atau diberi warna yang lain tertutup oleh malam/lilin, selanjutnya dilakukan proses pewarnaan. Siapkan bahan pewarna di dalam ember, kemudian celupkan kainnya ke dalam larutan pewarna. Proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh malam/ lilin. Pewarnaan dilakukan dengan cara mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu. Kain dicelup dengan warna yang dimulai dengan warna-warna muda, dilanjutkan dengan warna lebih tua atau gelap pada tahap berikutnya.

7. Setelah dicelupkan dalam pewarna, kain tersebut di jemur dan dikeringkan.

8. Setelah kering dilakukan proses pelorodan, proses tehnik “pelorodan” dilakukan dengan cara lilin dikerik dengan pisau, kemudian kain di rebus bersama-sama dengan air yang telah diberi soda abu, atau menggunakan tehnik pelepasan lilin dengan dilumuri bensin, kemudian Kain disetrika sehingga lilin menjadi meleh. Dari keempat jenis pelepasan lilin di atas, tehnik perebusan kain dengan soda abu dan tehnik setrika adalah yang lazim digunakan oleh pembatik tradisional.

9. Kain yg telah berubah warna tadi direbus dalam air panas. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan lapisan malam/ lilin sehingga motif yg telah digambar menjadi terlihat jelas. Apabila diinginkan beberapa warna pada batik yg kita buat, maka proses dapat diulang beberapa kali tergantung pada jumlah warna yg kita inginkan.

10. Setelah kain bersih dari malam/ lilin dan dikeringkan, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan malam/ lilin menggunakan alat canting untuk menahan warna berikutnya.

11. selanjutnya proses pencelupan warna yang kedua, dengan memberikan malam/ lilin lagi, pencelupan ketiga dst. Misalkan dalam satu kain diinginkan ada 5 warna maka proses diatas tadi diulang sebanyak jumlah warna yg diinginkan berada dalam kain tsb satu persatu lengkap dengan proses membuka/nglorot dan menutup malam/ lilin dilakukan berulang kali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.

12. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke campuran air dan soda ash untuk mematikan warna yang menempel pada batik, dan menghindari kelunturan.

13. Proses terakhir adalah mencuci /direndam air dingin dan dijemur sebelum dapat digunakan dan dipakai.

Sumber:

http://www.batiknulaba.com/

Perkembangan Motif Batik Lampung

Dalam keanekaragaman kebudayaan Indonesia terdapat satu bentuk benda budaya yang disebut “KAIN KHAS LAMPUNG” yang terdiri dari : KAIN TAPIS, BIDAK, SEBAGE, TEPPAL, SELEKAP, CINDAI, PELEPPAI dan NAMPAN yang merupakan hasil musyawarah Marga-Marga di Lampung.

Salah satu Kain Khas Lampung yang juga merupakan barang peniggalan Budaya Lampung dan mempunyai ciri khas tersendiri yang perlu dilestarikan adalah KAIN SEBAGE. Kain Sebage mempunyai beberapa corak dan penggunaannya disesuaikan dengan tingkatan golongan masyarakat atau adat. Bukan saja kaya corak dan warna, tetapi mengandung makna simbolis yang menyiratkan nilai Budaya Lampung.


Perkembangan Batik pada setiap daerah di Indonesia, mendorong Propinsi Lampung untuk memiliki identitas Batik sendiri, maka pada tanggal 6 Maret 1999 merupakan tonggak pengenalan dan sekaligus pemakaian Batik Khas Lampung yang dikenal dengan KAIN SEBAGE yang digelar bersamaan PEKAN SENI BUDAYA LAMPUNG Ke-XIV, yang diresmikan oleh Gubernur saat itu, yaitu Bp. Drs.Oemarsono.

Kalau dilihat dari sejarahnya Kain khas Lampung (Kain Sebage) terdiri dari 12 motif/corak, yaitu Sebage SEKEBAR, SEPENDENDUM, BELANDO, SULUH, KEMBANG MATAHARI, KEMBANG CINOU, KEMBANG MELUR, KEMBANG GUGUR, KEBANG KACO PIRING, KEMBANG GEDIAN, KEMBANG TELENG dan KEMBANG KAWENG.
BATIK KHAS LAMPUNG.

Perkembangan batik di Indonesia pada abad ke-20 sangat pesat sekali, hal ini juga mempengaruhi perkembangan batik di Lampung. Banyak sekali bermunculan corak-corak batik khas lampung, tetapi kurang memuat unsur atau ornamen yang ada di Kain Sebage. Ornamen batik khas Lampung banyak memuat ornamen ragam hias Budaya Lampung, yang didalamnya terdapat juga lambang-lambang daerah seperti Menara Siger dan sebagainya.

BATIK GABOVIRA yang merupakan salah satu perajin/pelaku usaha batik dan sekaligus desainer batik khas Lampung, dimasa mendatang akan melakukan modifikasi motif batik khas Lampung dengan menggabungkan ornamen Kain Sebage dengan ragam hias Budaya Lampung yang juga didalamnya memuat simbol-simbol daerah yang ada di Propinsi Lampung. Hal ini kami lakukan agar Propinsi Lampung tidak ketinggalan dengan Propinsi-Propinsi lainnya di Indonesia khususnya corak-corak batik exclusive dan modern.

Sumber:

https://kreasilampung.wordpress.com

Memahami Seni Kaligrafi Jepang

Seni Kaligrafi Jepang, atau yang sering di sebut dengan Shodō (書道) adalah seni menulis huruf jepang dengan gaya tertentu, misalnya tebal dan tipisnya garis. Shodō sendiri mulai dikenal di Jepang setelah seorang kaligrafer China Wang Xizhi datang kejepang dengan membawa kaligrafi yang menggunakan huruf China. Namun, lama kelamaan Shodō mulai berkembang dan kini cukup banyak ditemui karya-karya kaligrafi jepang yang menggunakan huruf Katakana maupun Hiragana.


Seni kaligrafi jepang (Shodō) mulai diperkenalkan pada anak sekolah dasar sebagai pelajaran wajib, sedangkan pada jenjang selanjutnya Shodō menjadi salah satu mata pelajaran pilihan antara music dan juga melukis. Beberapa universitas bahkan terdapat kelas khusus untuk Shodō, diantaranya University of TsukubaTokyo Gakugei Universitydan Fukuoka University of Education.

Alat dan Bahan dalam Shodō :
·         Shitajiki, alas untuk kertas, biasanya yang lembut dan berwarna hitam.
·         Bunchin, digunakan untuk menjepit kertas agar tidak bergeser, biasanya sudah tersedia di Shitajiki-nya.
·         Hanshi, kertas tipis khusus untuk menuliskan kaligrafi
·         Suzuri, tempat tinta yang keras (bisa terbuat dari batu atau bahan metal lainnya).
·         Sumi, tinta berbentuk batang hitang yang nantinya dicampur dengan air, setelah itu digosokkan ke Suzuri untuk mendapatkan tintanya.
·         Fude, kuas, ada berbagai macam gunakan sesuai kebutuhan.
Macam-macam Seni Kaligrafi Jepang (Shodō) :
·         Kaisho, yang berarti "correct writing", maksudnya kaligrafi dibuat sepersis mungkin dengan huruf versi cetak seperti di koran ataupun buku-buku (tidak digaya-gaya) agar mudah dibaca. Kaligrafi model inilah yang pertama dipelajari para siswa sekolah dasar, karena penulisannya tidak jauh beda dengan yang mereka gunakan sehari-hari dengan begitu model Kaisho bisa dengan mudah mereka pelajari.
  • Gyousho, berarti "traveling writting", huruf yang digunakan dalah Shodō dibuat sedikit miring. Berbeda dengan Kaisho yang kesannya tegas, Gyousho terlihat lebih santai. Penulisannya sama seperti tulisan tangan dengan bagian-bagian ujung yang terlihat lebih tumpul.
  • Sousho, berarti "grass writting". Untuk model Sousho, tulisannya terasa lebih bebas dengan huruf-hurufnya yang dibuat miring. Sousho lebih sulit dibaca diantara model yang lainnya. Dalam pembuatannya, kebanyakan kaligrafer tidak melepaskan/mengangkat Fudonya, jadi garis-garis yang ada akan terasa menyatu.
Sumber:

http://tdworkgroup.blogspot.co.id/

Aneka Konsep Pengerjaan Kaligrafi

Pengertian Kaligrafi, "Kaligrafi adalah ilmu seni menulis indah, ia berasal dari bahasa asing, yaitu: Bahasa inggris: Caligraphy is (art) beautiful hand writing. Bahasa latin: Calios: indah; Graph: tulisan, jadi artinya adalah tulisan indah. Kaligrafi dalam bahasa Arab disebut al-khoth, yang berarti: guratan garis atau tulisan.


Beberapa definisi kaligrafi:

A. Menutudt Syaikh Syamsuddin Al-Ahfani, pengertian khath (kaligrafi) adalah: "Ilmu yang mempelajari bermacam bentuk huruf tunggal, pisah dan tataletaknya serta metode cara merangkainya menjadi susunan kata atau cara penulisannya di atas kertas dan sebagainya" (Al-akfani -Irsyadul Qasid).

B. Menurut Yaqut Al-Musta'shimy, "Kaligrafi adalah seni arsitektur yang dieksoresikan lewat alat keterampilan".

C. MenututUbaid bin Ibad: " Khat merupakan duta/utusan dari tangan, sedang pena adalah dutanya" 

Jenis-jenis Khat

      Dalam perkembangannya muncul banyak jenis khat kaligrafi, tidak semua khath tersebut bertahan hingga saat ini. Terdapat 8 (delapan) jenis khat kaligrafi yang populer yang dikenal oleh para pecinta seni kaligrafi di Indonesia, yaitu;

1.        Gaya Naskhi  - Kaligrafi gaya Naskhi paling sering dipakai orang-orang islam, baik untuk menulis naskah keagamaan maupun tulisan sehari-hari. Gaya Naskhi termasuk gaya penulisan kaligrafi tertua. Sejak kaidah penulisannya dirumuskan secara sistematis oleh Ibnu Muqlah pada abad ke-10, gaya kaligrafi ini sangat populer digunakan untuk menulis mushaf Alquran sampai sekarang. Karakter hurufnya sederhana, nyaris tanpa hiasan tambahan, sehingga mudah ditulis dan dibaca. [Didin Sirojuddin (2006)].

2.        Gaya Tsuluts - Kaligrafi ini merupakan seorang menteri  bahasa arabnya (wazir) di masa Kekhalifahan Abbasiyah. Tulisan kaligrafi gaya Tsuluts sangat ornamental, dengan banyak hiasan tambahan dan mudah dibentuk dalam komposisi tertentu untuk memenuhi ruang tulisan yang tersedia. Karya kaligrafi yang menggunakan gaya Tsuluts bisa ditulis dalam bentuk kurva, dengan kepala meruncing dan terkadang ditulis dengan gaya sambung dan interseksi yang kuat. Karena keindahan dan keluwesannya ini, gaya Tsuluts banyak digunakan sebagai ornamen arsitektur masjid, sampul buku, dan dekorasi interior, dan lain sebagainya.

3.        Kaligrafi gaya Farisi - Seperti tampak dari namanya, kaligrafi gaya Farisi dikembangkan oleh orang Persia dan menjadi huruf resmi bangsa ini sejak masa Dinasti Safawi sampai sekarang. Kaligrafi Farisi sangat mengutamakan unsur garis, ditulis tanpa harakat, dan kepiawaian penulisnya ditentukan oleh kelincahannya mempermainkan tebal-tipis huruf dalam 'takaran' yang tepat. Gaya ini banyak digunakan sebagai dekorasi eksterior masjid di Iran, yang biasanya dipadu dengan warna-warni Arabes.

4.        Gaya Riq’ah - Kaligrafi ini merupakan hasil pengembangan kaligrafi gaya Naskhi dan Tsuluts. Sebagaimana hal-nya dengan tulisan gaya Naskhi yang dipakai dalam tulisan sehari-hari. Riq’ah dikembangkan oleh kaligrafer Daulah Utsmaniyah, lazim pula digunakan untuk tulisan tangan biasa atau untuk kepentingan praktis lainnya. Karakter hurufnya sangat sederhana, tanpa harakat, sehingga memungkinkan untuk ditulis cepat.

5.        Ijazah (Raihani) - Tulisan kaligrafi gaya Ijazah (Raihani) merupakan perpaduan antara gaya Tsuluts dan Naskhi, yang dikembangkan oleh para pakar kaligrafer Daulah Usmani. Gaya ini lazim digunakan untuk penulisan ijazah dari seorang guru kaligrafi kepada muridnya. Karakter hurufnya seperti Tsuluts, tetapi lebih sederhana, sedikit hiasan tambahan, dan tidak lazim ditulis secara bertumpuk (murakkab).

6.        Gaya kaligrafi Diwani - Kaligrafi ini dikembangkan oleh kaligrafer Ibrahim Munif. Kemudian, disempurnakan oleh Syaikh Hamdullah dan kaligrafer Daulah Usmani di Turki akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16.Gaya ini digunakan untuk menulis kepala surat resmi kerajaan. Karakter gaya ini bulat dan tidak berharakat. Keindahan tulisannya bergantung pada permainan garisnya yang kadang-kadang pada huruf tertentu neninggi atau menurun, jauh melebihi patokan garis horizontalnya. Model kaligrafi Diwani banyak digunakan untuk ornamen arsitektur dan sampul buku. 

7.        Gaya Diwani Jali - Kaligrafi ini merupakan pengembangan gaya Diwani. Gaya penulisan kaligrafi ini diperkenalkan oleh Hafiz Usman, seorang kaligrafer terkemuka Daulah Usmani di Turki. Anatomi huruf Diwani Jali pada dasarnya mirip Diwani, namun jauh lebih ornamental, padat, dan terkadang bertumpuk-tumpuk. Berbeda dengan Diwani yang tidak berharakat, Diwani Jali sebaliknya sangat melimpah. Harakat yang melimpah ini lebih ditujukan untuk keperluan dekoratif dan tidak seluruhnya berfungsi sebagai tanda baca. Karenanya, gaya ini sulit dibaca secara selintas. Biasanya, model ini digunakan untuk aplikasi yang tidak fungsional, seperti dekorasi interior masjid atau benda hias.

8.       Gaya Kufi - Kaligrafi gaya kufi, penulisannya banyak digunakan untuk penyalinan Alquran periode awal. Karena itu, gaya Kufi ini adalah model penulisan paling tua di antara semua gaya kaligrafi. Gaya ini pertama kali berkembang di Kota Kufah, Irak, yang merupakan salah satu kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam sejak abad ke-7 M.

       Demikian pengertian kaligrafi dan jenis-jenisnya, semoga membantu para  kaligrafer dalam mendalami kaligrafi dan khoth.

Sumber:

http://ahlibahasaarab.blogspot.co.id/

Dekorasi Al-Fatihah

Inilah varian dari produk kain tenun tapis Lampung
- Ukuran panjang kain 100 cm dan lebar 60 cm
- Motif ayat kursi
- Kain tenun asli karya pengrajin tenun tapis profesional

Ciri khas:
- Tapis merupakan kain tenun khas masyarakat Lampung. Jadi produk ini memiliki karakteristik etnik Lampung yang sangat kuat.
- Dengan perawatan dan penjagaan yang baik, kain tenun mampu bertahan hingga usia puluhan tahun
- 90% dari kain dasar dihias dengan sulaman benang emas. Maksudnya, sulaman benang emas hampir menutupi seluruh kain dasar tapis yang berukuran 100 x 60 cm itu.

Keunggulan:
- Motif ayat kursi dirangkai dari benang emas kualitas terbaik
- Pembuatan motif menggunakan metode sulam tangan yang terbukti menghasilkan motif yang lebih rapat, detail, kuat, dan rapi dibanding dengan metode bordir.
- Kain tenun dibuat dengan cara penenunan tradisional dengan bahan baku alami, sehingga kain yang dihasilkan bisa sangat awet, tahan lama, dan mampu bertahan hingga usia puluhan tahun.
- Pewarnaan memanfaatkan bahan-bahan alami, sehingga warna tenun tidak mudah luntur dan tidak berbahaya bagi kesehatan.

Harga:
- Rp 800.000.-

Pemesanan:
- Silahkan dengan menghubungi 0857 4188 7228
Jika Anda menginginkan proses transaksi melalui rekening bersama, silahkan lakukan pembelian produk kami dengan mengklik bukalapak.com 







Dekorasi Ayat Kursi Full Benang Emas

Inilah varian dari produk kain tenun tapis Lampung
- Ukuran panjang kain 100 cm dan lebar 60 cm
- Motif ayat kursi
- Kain tenun asli karya pengrajin tenun tapis profesional

Ciri khas:
- Tapis merupakan kain tenun khas masyarakat Lampung. Jadi produk ini memiliki karakteristik etnik Lampung yang sangat kuat.
- 90% dari kain dasar dihias dengan sulaman benang emas. Maksudnya, sulaman benang emas hampir menutupi seluruh kain dasar tapis yang berukuran 100 x 60 cm itu.

Keunggulan:
- Motif ayat kursi dirangkai dari benang emas kualitas terbaik
- Pembuatan motif menggunakan metode sulam tangan yang terbukti menghasilkan motif yang lebih rapat, detail, kuat, dan rapi dibanding dengan metode bordir.
- Kain tenun dibuat dengan cara penenunan tradisional dengan bahan baku alami, sehingga kain yang dihasilkan bisa sangat awet, tahan lama, dan mampu bertahan hingga usia puluhan tahun.
- Pewarnaan memanfaatkan bahan-bahan alami, sehingga warna tenun tidak mudah luntur dan tidak berbahaya bagi kesehatan.

Harga:
- Rp 750.000.-

Pemesanan:
- Silahkan dengan menghubungi 0857 4188 7228
Jika Anda menginginkan proses transaksi melalui rekening bersama, silahkan lakukan pembelian produk kami dengan mengklik bukalapak.com 

Dekorasi Motif Ayat Kursi Full Benang Emas



Dekorasi Ayat Kursi Bordir

Tapis motif kaligrafi ayat kursi bordir adalah salah satu produk tapis kaligrafi yang banyak diminati masyarakat, baik nasional maupun secara khusus  Lampung. Selain harganya yang murah, keindahan tapis kaligrafi ayat kursi bordir juga tidak kalah dengan model tapis kaligrafi ayat kursi sulam.

Tapis kaligrafi ayat kursi bordir dibuat dengan tujuan agar masyarakat dapat memperoleh tapis kaligrafi dengan harga yang lebih terjangkau. Berbeda dengan tapis kaligrafi sulam yang harganya dikisaran lima ratus ribu hingga jutaan, tapis kaligrafi bordir justru harganya bisa berkali-kali lipat dibawah tapis kaligrafi sulam.

Kain tenun yang digunakan sebagai kain dasar tapis kaligrafi bordir tidaklah berbeda dengan tapis kaligrafi sulam. Kain tenun sama-sama dibuat dengan metode penenunan tradisional. Perbedaan ada pada bahan benang yang digunakan dalam membuat motif kaligrafi dan metode pembuatan motifnya.
Pada tapis kaligrafi bordir, motif kaligrafi dibuat dengan menggunakan benang bordir yang bentuknya  mirip dengan benang jahit. Proses pembuatannya juga menggunakan mesin bordir. Sedangkan tapis kaligrafi sulam, motifnya dibuat dengan menggunakan benang logam yang berwarna keemasan. Benang emas yang digunakan adalah jenis benang emas pelintir. Proses pembuatannya dengan menggunakan metode sulam tangan.

Proses pembuatan tapis kaligrafi bordir juga jauh lebih singkat daripada proses pembuatan tapis kaligrafi sulam. Untuk ukuran panjang 100 cm dan lebar 60 cm, pembuatan tapis kaligrafi bordir memerlukan waktu setidaknya 4 hingga 7 hari. Sedangkan pembuatan tapis kaligrafi sulam biasanya membutuhkan waktu lebih dari satu bulan.

Tekstur pada tapis kaligrafi bordir juga lebih tipis dan ringan, sedangkan tekstur pada tapis kaligrafi sulam cukup tebal dan berat. Namun demikian, baik tapis kaligrafi bordir maupun sulam, keduanya sama-sama dikerjakan dengan teliti dan detail, sehingga menghasilkan produk hiasan kaligrafi yang rapi dan indah.

Meskipun harganya lebih terjangkau, kualitas kain, bordir, dan desain pada tapis kaligrafi bordir tetap terjaga. Dengan perawatan yang baik, kain dan motif kaligrafi akan selalu awet, tahan lama, dan tidak rusak. Selalu gunakan pigura berkaca agar kain tidak terkena kotoran debu, serta jangan letakkan kain pada ruangan yang lembab atau terkena panas sinar matahari secara langsung.

Sebenarnya tapis kaligrafi bordir ini merupakan sebuah inovasi agar tapis kaligrafi tapis bisa diproduksi secara massal, sehingga lama pembuatan dan biaya produksi lebih efisien. Dengan demikian, akan berpengaruh juga pada harga jual yang lebih terjangkau oleh masyarakat. Pembuatan tapis kaligrafi dengan metode sulam tangan memang memiliki keunikan tersendiri. Namun sangat sulit untuk memproduksi tapis kaligrafi secara massal karena proses pembuatannya menggunakan metode sulam tangan.

Dengan hadirnya produk kaligrafi ayat kursi bordir, maka masyarakat dimudahkan untuk memiliki koleksi tapis kaligrafi dengan harga yang murah. Tentu dengan harapan semoga tapis dapat dikenal dan dimiliki masyarakat secara luas, baik nasional maupun internasional.